Rabu, 12 September 2012

GIATLAH MENCARI NAFKAH KEMUDIAN TAWAKKAL


Kesalahan memahami hakekat tawakal kerap menjerumuskan orang ke dalam kegagalan dunia-akhirat. Agar tidak termasuk golongan ini, pahamilah keterkaitan antara kerja keras dan tawakal yang diperintahkan. Berusahalah. Bekerjalah. Penuhi kebutuhan hidupmu sendiri. Perangi kemalasan. Jangan tergantung pada orang lain. Imam Ahmad pernah ditanya mengenai seorang lelaki yang hanya duduk-duduk di rumah atau di masjid, seraya berkata, “Aku tidak mau bekerja sedikit pun, karena rezekiku akan datang sendiri.” Maka beliau berkata,”Ia orang yang tidak paham agama.” Selanjutnya Imam Ahmad berkata, “Para sahabat dulu berdagang dan bekerja dengan pohon kurmanya. Padahal merekalah teladan kita.” (Fathul Bari, 11/305-306) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan umatnya giat bekerja dan berusaha keras mencari rezeki guna menjaga kehormatan diri dan masa depan keluarga. Beliau bersabda: “Berusahalah untuk mencari sesuatu yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan merasa lemah. Jika sesuatu terjadi padamu, maka jangan katakan, ‘Seandainya aku melakukan hal ini, pasti tidak seperti ini. Namun katakanlah, ‘Ini takdir Allah dan apa yang telah Dia kehendaki pasti Allah lakukan. Karena berandai-andai itu membuka peluang untuk setan.” IKHTIAR MENCARI NAFKAH Beberapa hal dapat ditempuh seorang Muslim untuk mendapatkan, menjaga dan mengembangkan usaha agar memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Di antaranya:

1. Bertakwa Imam Ar Raghib Al Ashfahani memberikan definisi takwa sebagai “menjaga jiwa dari perbuatan berdosa, dengan meninggalkan segala yang dilarang; dan takwa bisa menjadi sempurna dengan meninggalkan sebagian yang dihalalkan (karena syubhat, ed.).” (Al-Mufradat fi gharibil Quran, hal. 531) Anjuran menjaga ketakwaan berkaitan erat dengan upaya mencari nafkah. Bekal takwa akan menjadi rambu-rambu dalam mengais rezeki nya sehingga dia bisa menjamin bahwa uangnya halal. Dari Abdullah bin Mas’ud Radliallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bertakwalah kepada Allah dan ambilah yang baik dalam mencari rezeki (ambil yang halal dan tinggalkan yang haram). Seimbang dalam berusaha dan menuntut ilmu.” (HR. Hakim) Seorang Muslim yang bertakwa dituntut berlaku seimbang antara menuntut ilmu dan mencari nafkah. Kekuatan ilmu dan harta yang bersinergi baik akan melahirkan kekuatan dasyat dan pengaruh positif bagi dakwah dan kebangkitan umat.

2. Profesional Adalah kewajiban seorang Muslim bekerja profesional, baik untuk pekerjaan skala kecil maupun skala besar. Jika sebuah pekerjaan dilakukan secara profesional, insya Allah akan menghasilkan keuntungan maksimal.

3. Menjaga waktu Bagian dari ikhtiar seorang Muslim dalam bekerja adalah bisa memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk hal yang bermanfaat, terkait urusan dunia dan akheratnya, sehingga tidak ada waktu untuk hal yang sia-sia.

4. Amanah Amanah adalah sifat yang sangat agung. Allah dan rasul-Nya memerintahkan kepada setiap Muslim untuk menunaikan amanah yang diembannya dan tidak berkhianat, sekecil apa pun amanah tersebut.

5. Istiqamah Seorang Muslim harus istiqamah dalam menuntut ilmu, beribadah dan berusaha maksimal menjalankan usaha dan meniti hidupnya.

6. Perbanyak doa Doa sangat bermanfaat dalam segala hal, baik belum atau setelah terjadi. Orang sombong enggan berdoa dan minta kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Dan Rabbmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau berdoa kepada-Ku, akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.” (QS. Ghafir [40]: 60) Allah Ta’ala juga berfirman, yang artinya, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah [2]: 186) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Doa adalah ibadah.” (HR. Ibnu Hibban, Abu Daud, Turmudzi, dan dishahihkan al-Albani). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Sesungguhnya Allah Maha Pemalu, lagi Maha Pemurah. Dia malu jika seseorang menengadahkan tangannya (meminta) kepada-Nya, kemudian dia menarik tangannya dalam keadaan hampa tanpa mendapat apa-apa.” (HR Tirmidzi dan dishahihkan Al-Albani). Semoga kita diberi kemudahan oleh Allah untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar